BACA INI, DIJAMIN 100% KAMU PASTI KE LUAR NEGERI
Begitulah, tanpa sadar kamu sedang diperdaya oleh papan iklan saat tergila-gila dengan kata ‘luar negeri’.
Kursus bahasa asing laku keras. Poster lomba dengan latar mancanegara berjejer di mana-mana.
Begitu pun di kampus. Tidak bisa disangkal bahwa teman-teman yang baru pulang dari luar negeri lebih prestisius di matamu. Mereka yang sudah pernah ke luar negeri bisa kamu simak berjam-jam meskipun ocehannya jauh panggang dari api.
Segera kamu ingin seperti mereka. Dianggap ada, minimal. Kamu lelah berpura-pura bangga terhadap mereka. Dan kamu tidak mungkin puas hanya menerima oleh-oleh yang itu-itu melulu: gantungan kunci yang lucu.
Jelas kamu cemburu. “Mengapa saya tidak mampu?” jerit hatimu.
Kamu akan ke luar negeri. Sebentar lagi.
Kata ‘akan’ hanya ‘angan’. Itulah rencana. Memang kamu memandang rencana bagaikan dua sisi mata uang: harapan dan khayalan.
Jika kamu siap diketawai banyak orang, maka mengumbar mimpi tidak masalah, bisa jadi itu cambuk bagi harapanmu. Jika kamu tidak mau menghadapi rasa kecewa orang lain, maka sudah, beraksi saja.
Kamu tahu, ada temanmu yang nekat pergi ke luar negeri dengan modal pas-pasan, bahasa pun pas-pasan. Hasilnya dia hidup dan tinggal beralaskan lantai emperan toko, Jadi gelandangan imigran. Mengenaskan. Bagaimana dia bisa mempertaruhkan citra bangsa dan negara jika ditanya dari mana dia berasal?
Tapi kamu tidak menampik, cap ‘luar negeri’ menjadi magnet tersendiri bagi orang-orang besar yang ingin kamu taklukkan, menjadi umpan bagi perusahaan yang sedang kamu kejar, dan tentu saja untuk memperteguh kedudukan di antara yang lain.
---
Dengar, sebentar lagi kamu pasti ke luar negeri.
Fokus pada cita-cita terbesarmu, lalu jujurlah pada diri sendiri saat menjawab pertanyaan berikut ini:
1. Apa yang harus kamu bawa ke sana?
2. Pikirkan apa dampaknya sepulang dari sana!
3. Tuliskan perkiraan tanggal, bulan, dan tahunnya!
4. Siapa yang paling mendukung cita-citamu ini?
Sudah menjawab? Sekarang mari kita bahas satu persatu.
1. Bekal
Salah seorang mahasiswa yang terhitung aktif di kampus menjawab lama sekali pertanyaan ini.
Tidak ada titik terang selain jawaban ‘modal uang’. Itu betul. Tanpa uang, kita tidak bisa meraih paspor, visa, tiket keberangkatan, tagihan restoran, atau oleh-oleh gantungan kunci yang lucu. Namun, bukankah belakangan ini beasiswa sudah banyak ditawarkan?
Tanyakan kembali pada teman-temanmu yang pernah mengikuti pertukaran pelajar. “Apa yang harus saya bawa ke luar negeri?”
Mengherankan, jawaban mereka tidaklah rumit.
Barangkali kamu sering mendengarnya. Istilah yang luar biasa keren dan pernah dikatakan Miss Universe untuk merebut hati para juri.
Kompak dan serentak teman-temanmu mengatakan, “Culture.”
Ya. Budaya. Sesudah itu, berhenti di situ. Rata-rata memang begitu. Bahkan tidak ada jawaban diplomatis selain budaya. Paling tidak di luar negeri kamu bisa tari saman, main angklung atau tari jaipongan,dll begitu katanya.
Pamer budaya.
Geez! Anak-anak yang ngamen di jalanan juga bisa pamer budaya Indonesia ke Iuar negeri
Apakah ada jawaban yang lebih hebat dari culture? Coba gali lebih dalam! Kamu sudah punya apa? Pantaskah kamu didelegasikan ke luar negeri dengan bekal yang kamu punya di dalam hati dan kepalamu?
2. Manfaat
Kamu kini mesti sadar betul dan menganalisis seberapa pantas kamu menyabet secelah kesempatan. Begitu pun jika kamu berkesempatan menjenguk negeri Paman Sam, kamu harus tahu untuk apa kamu berada di sana.
“Eksperience,” kamu bilang dengan percaya diri.
“But that is for you. For us?” tanya teman-temanmu..
“Hmm...” kamu berpikir setengah mati. “Inspiring.”
“Alah. Klise. Siapa sih yang gak terinspirasi sama orang yang melarikan diri ke luar negeri? Iya, melarikan diri. Siapa yang gak ingin jauh berlari dari problematika negeri ini?”
Tunggu dulu, bukankah kamu singgah ke negara tetangga juga karena termotivasi ingin memperbaiki negara sendiri? Semoga saja iya.
Kamu, juga aku, harus jeli memahami, bahwa dengan bolak-balik ke luar negeri kita hanya bisa menginspirasi (memaksa) orang lain untuk sama-sama ke luar negeri atau justru gigit jari. Ini menjadi semacam lingkaran dendam.
Kok bisa mereka tergiur? Salahmu sendiri. Terlampau semangat berfoto selfie dan mengunggahnya di berbagai akun media sosial.
Barangkali memang benar kamu bisa menginspirasi banyak orang dengan berpose di hadapan Icon-Icon negara lain Tapi apakah dengan begitu, perkataanmu bisa sebaik sabda nabi? Langkahmu menjadi uluran benang untuk sejuta umat kembali pada pencipta mereka?
Bicara mengenai inspirasi, sekarang, apa yang kamu dapatkan dari foto selfie itu?
Kebanggaan.
Kebanggaan terhadap siapa?
Tentu kebanggaan terhadap negara orang.
Siapa yang paling bangga dan diuntungkan?
Penduduk asli di negara orang.
Baiklah, kamu mungkin perlu mengingat turis-turis asing yang mondar-mandir di trotoar kita. Bagaimana sikap mereka?
Mereka jatuh cinta dengan pesona indah Nusantara. Dan dengan berfoto selfie, mereka takut akan menghancurkan keindahan itu. Mereka memotret. Bukan dipotret.
Mereka tulus ingin berbagi. Sedangkan baru pertama kali makan Kimchi saja kamu harus segera update status, ganti foto profil, dan sebagainya.
Mereka yang cinta Indonesia akan menunjukkan keindahan Indonesia.
Bagaimana dengan turis asing yang tidak sengaja melihat kecacatan Indonesia di sudut-sudut kota dan memotretnya dan menampilkannya di situs internasional?
Lihat saja di sekelilingmu. Sampah berserakan. Kepulan asap pabrik di udara. Ruas-ruas jalan mampet kendaraan. Tidak ada lagi yang sudi mengurus. Apa kamu tidak takut hal-hal demikian itu tersebar ke luar negeri sementara kamu harus minggat?
Kamu berdalih, “Para insinyur kebersihan juga banyak yang melarikan diri ke luar negeri. Di sini kerja capek, upah sedikit. Di sana kerja leluasa, upah luar biasa.”
Lantas, apa manfaatnya kamu ke luar negeri? Pikirkan ulang. Luar negeri bukan pelarian. Luar negeri juga bukan soal foto selfie.
3. Target
Seandainya suatu saat nanti kamu bisa ke luar negeri, kapan waktu terbaik menurutmu? Tahun ini? Tahun depan? Atau sebulan kemudian?
Ke mana? Amrik, Jepang, Jerman, Belanda, Turki, Aussie?
Ingat, kamu menuliskan target berdasarkan kesiapan matang. Kamu harus bisa mengukur. Kamu tahu semua orang tanpa terkecuali bisa ke luar negeri. Tapi, jadilah realistis. Jangan jadi Iccarus. Menjadi realistis bukan berarti pesimis.
Sekarang bayangkan kamu seorang atlet hendak giliran lompat jauh. Di hadapanmu banyak timeline kesuksesan. Selain ke luar negeri yang kamu tuju, tentu kamu punya banyak rencana. Kamu tahu apa saja yang mesti kamu lakukan untuk mendukung tiap-tiap rencanamu, cita-citamu.
Kapan pun, anggaplah itu angka di garis terjauh. Kamu harus melompat pada angka yang pas. Kalau tidak, ingat, meleset sedikit bukan berarti kiamat. Kalau gagal, ya paling tidak kamu sudah pernah melompat dengan kakimu sendiri.
Dan kekecewaan seringkali datang saat kamu hanya membidik arena lompatan tanpa memeriksa diri sendiri.
Kamu terlalu berorientasi ke depan tanpa melihat sesuatu yang paling dekat denganmu.
Apa yang akan terjadi terdekat, detik berikutnya dari sekarang, jam berikutnya dari sekarang, besok? Mampukah kamu membayangkannya?
Padahal cita-cita setahun ke depan dan apa yang terjadi besok sama-sama belum terjadi.
Mana cita-cita jangka pendekmu?
Pada akhirnya kamu menjawab, punya skor TOEFL yang baik.
Kapan kamu akan tes TOEFL?
Bulan depan.
Sebelum tes TOEFL?
Kursus bahasa Inggris.
Sebelum kursus?
Makan yang banyak.
Sebelum makan?
Mandi.
Sebelum mandi?
Bangun tidur.
Sebelum bangun?
Tidur.
Sebelum tidur?
Hmm.
Begitulah, Sayang, bahkan tidur pun belum. Kamu mungkin tidak tahu ada yang menghalangimu pergi ke kamar.
Bahkan makan pun belum. Kamu mungkin tidak tahu apa yang membikin kamu tersedak kemudian ruang makan pindah ke ICU.
Kamu mungkin tidak tahu ada yang tidak beres dalam tubuhmu, dalam rongga dadamu. Ialah jantung. Jantung yang bisa saja berhenti berdetak tanpa kamu minta.
Kata orang, bercita-cita harus setinggi langit.
Tapi Tuhan menginginkan kamu bercita-cita sependek mungkin. Bercita-cita untuk mati.
Jangan hanya mau bercita-cita ke luar negeri. Bercita-citalah terlebih dulu untuk sampai ke luar dunia dengan selamat.
Jika kita siap ke luar dunia, Tuhan akan menempatkanmu di muka bumi mana yang kamu suka.
Jika ternyata sampai mati kamu belum juga ke luar negeri, yakinlah bahwa negeri-negeri di surga jauh lebih indah dan bisa kamu nikmati selamanya.
4. Sponsor
Kamu sudah ke sana-ke mari mencari-cari informasi. Lembaga mana yang kiranya akan memberangkatkanmu ke luar negeri? Siapa yang akan menjadi sponsor?
Kamu sudah tidak sabar buat terbang.
Teman-temanmu rata-rata pernah ke luar negeri. Mereka sudah selesai dengan dirinya, tanggungjawabnya. Sudah ada perwakilan diri mereka di berbagai daerah. Sudah ada salinan diri mereka yang tersebar di berbagai pelosok negeri untuk menyelesaikan segala yang perlu dibenahi.
Seperti itulah senyata-nyatanya inspirasi. Menjadi King Maker, pencetak generasi.
Sekarang, jika kamu memang sudah selesai dengan dirimu, berkemaslah. Buka koper besarmu. Siapkan perbekalan dari nomor satu sampai tiga tadi. Di dalamnya sudah kamu bungkus cita-cita dua ratus juta rakyat.
Jangan lupa bawa juga cita-cita jangka pendekmu. Mintailah restu pada siapa-siapa yang mendukungmu untuk sampai ke luar negeri. Ayah, Bunda, Om, Tante, Nenek, Kakek.
Pada akhirnya semua orang akan mendukungmu, menjadi sponsormu.
Hanya saja bagaimana jika pemilik bumi tidak mendukung? Tentu kamu tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengatakan padanya tentang maksud baikmu ke luar negeri:
“Tuntun saya untuk menjejaki seluruh dunia, Tuhan. Hasilnya Engkau yang tentukan. Kalau Engkau tak perkenankan, saya ikhlas. Saya lebih bangga mengikuti rencana Engkau daripada rencana saya.”
2015 | Kartini F. Astuti